Rabu, 06 November 2019

MAYOR BISMO



Monumen Mayor Bismo di Alun - Alun Kediri

Pendahuluan
15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito meyatakan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat (Sekutu). Berita kekalahan Jepang tersebut didengar pula oleh aktivis – aktivis pemuda Indonesia yang kemudian medesak Sekarno – Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia dari pendudukan Jepang. 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dikumandangkan.
Pihak penguasa militer pedudukan Jepang di Indonesia mengambil sikap menjaga ketertiban, menunggu pasukan sekutu datang dan meyerah secara militer, serta melucuti senjata secara lengkap. 16 Agustus 1945 rapat staf Komando dilaksanakan terkait berita pernyataan Kaisar. Sambil menunggu datangya surat resmi, peserta rapat sepakat untuk menjaga ketertiban, dan keamanan warga Jepang di daerah pendudukan. Selain itu disepakati pula untuk pembubaran seluruh badan pasukan cadangan militer. 17 Agustus 1945 perintah dikeluarkan, seluruh badan pasukan cadangan militer Jepang di daerah pendudukan dibubarkan, terutama PETA, Haiho, Seinendan, Keibodan dan Tokubetsu Keitsatsu Tai serta melucuti persenjataan mereka, namun teknis pelaksanaan pada kesatuan-kesatuan dilaksanakan tiga hari setelah perintah dikeluarkan.[1]

Perjuangan Mayor Bismo
Kata-kata mutiara dari Mayor Bismo
Berita Proklamasi kemerdekaan bangsa Indoesia dan perintah Pembubaran serta pelucutan senjata pasukan cadangan militer Jepang tidak lah berbarengan sampai kepada kesatuan-kesatuan di daerah. Seakan-akan kedua informasi tersebut berlomba-lomba sampai terlebih kepada kesatua-kesatuan militer di pelosok daerah. Pada 19 Agustus 1945, kesatuan – kesatuan PETA dan Heiho Jawa bagian Barat secara seremonial resmi dibubarkan dan berhasil dilucuti.[2] Namun kondisi tersebut berbeda jauh dengan kesatuan - kesatuan di Jawa bagian Timur, terutama di Karesidenan Kediri. 19 Agustus 1945 siang Pelucutan senjata pihak Jepang di Kediri gagal total. Hal tersebut dikarenakan kesatuan-kesatuan PETA, Haiho, dan Tokubetsu Keitsatsu Tai telah bersepakat untuk mendukung mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, yang telah diproklamasikan Sekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.
Sebelumnya, Shudanco Bismo setelah medengarkan siaran radio terkait Proklamasi Kemerdekaan diikrarkan Sekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, segera mengkoordiasikan sikap komandan-komandan PETA Kediri, terutama persetujuan Daidanco Soerahmat. Rapat koordinasi bersama dari berbagai elemen masyarakat Kediri dilaksanakan di Sekolah Taman Siswa (Jl. Pemuda no. 16 Kediri), Shudanco Bismo menginformasikan Proklamasi Kemerdekaan diikrarkan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 dan kondisi pemerintahan pendudukan Jepang kepada seluruh hadirin. Selain itu Shudanco Rustamadji mengadakan rapat pula dengan nito keibu R. Soedarman di markas Tokubetsu Keitsatsu Tai (Polisi)[3].[4] Kemudian setelah dikoordinasikan dengan Syucokan Kediri, R. Abdulrahim Pratalykrama[5], beliau pun medukung dengan melaksanakan rapat besar secara resmi di gedung Societeit Phoenix (Gedung GNI lama). 
19 Agustus 1945 malam hari, rapat bersama antar kesatuan-kesatuan cadangan digelar, dan disepakati malaksanakan pengepungan dan pelucutan senjata ke pos-pos militer tentara Jepang di Kediri. 20 Agustus 1945, sehari setelah pelucutan senjata kesatuan-kesatuan cadangan gagal, ganti pos- pos militer tentara Jepang dilucuti masyarakat Kediri yang dipelopori eks kesatuan-kesatuan cadangan PETA, Haiho, Seiendan, Keibodan dan Tokubetsu Keitsatsu Tai. Pelucutan senjata dimulai dari gudang Kantor polisi Karesiden, kemudian mengepung markas Kempetai. [6] Dari eks PETA dipimpin oleh Shudanco Bismo, dari pihak eks Tokubetsu Keitsatsu Tai dipimpin junsa bucho Miran. Pelucutan senjata di markas kempetai sangat alot dan terjadi perlawanan sengit, sehingga Syucokan Kediri, R. Abdulrahim Pratalykrama perlu turun tangan untuk bernegosiasi dengan pimpinan tentara Jepang. Akhirnya kesepakatan ditentukan, pihak Jepang meyerah dan mempersilahkan pengibaran bendera merah putih menggantikan bendera Hinomaru, serta seluruh senjata pasukan Jepang diserahkan kepada pihak Republik.[7] Shudanco Bismo segera membagi-bagikan senjata kepada pejuang-pejuang Republik.
Keberhasilan misi memobilisasi massa pada awal berita proklamasi kemerdekaan dan kesuksesan pelucutan senjata tetara Jepang di Kediri, menjadikan Shudanco Bismo salah satu pejuang yang disegani lawan maupun kawan. Setelah maklumat pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945 diputuskan, kepiawaian Kapten Bismo tersebut menjadikan beliau dipercaya sebagai Komandan Batalyon Sadhi Yudha, di bawah Brigade S Karesidenan Kediri, begitu pula setelah maklumat 5 Oktober 1945 dimana BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Salah satu jasa besar Kapten Bismo pada awal kemerdekaan adalah menjadikan Brigade S Karesidenan Kediri sebagai Brigade paling kuat, dan paling lengkap persenjataanya dibandingkan Brigade-brigade di daerah lain. Dapat dibandingkan, jika secara nasional persenjataan BKR-TKR pada awal kemerdekaan berbandiang 1 : 3 (1 senjata untuk 3 tetara), sedangkan pada Brigade S sudah 1:1 (1 senjata untuk 1 tentara).[8]

Gugurnya Mayor Bismo
Pada tahun 1948, Presiden Soekarno menyetujui pelaksanaan Rekonstruksi dan Rasionalisasi (RERA) ditubuh Militer yang di ajukan kabinet Perdana Menteri Moh. Hatta. Salah satu kebijakan turunannya adalah di Jawa hanya akan dibagi menjadi 4 Divisi, dan Jawa Timur menjadi Divisi I. Semetara polemik penunjukan Panglima Divisi I berlangsung, dibentuk dahulu Staf Pertahanan Djawa Timur (SPDT) Divisi I. Dari Brigade S, dipilih dua orang untuk menjadi staf SPDT yang berkantor di Madiun, yaitu Kapten Bismo sebagai Kepala Staf I dan Kapten  Kartidjo sebagai kepala Staf III. Namun naas, 18 September 1948, terjadi Pemberontakan kaum Komunis di Madiun. Seluruh anggota SPDT yang baru terbentuk di tahan dan di eksekusi oleh simpatisan pemberontak, Kapten Kartijo berhasil menyelamatkan diri, namun Kapten Bismo gugur sebagai tumbal mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.[9] Sebagai gelar terakhir beliau diaugerahkan gelar Mayor, dan hingga kini kita mengenalnya sebagai Mayor Bismo.
Atas jasa – jasa nya sebagai pejuang yang mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, maka pada 17 Desember 1974 diresmikanlah Monumen Mayor Bismo di Alun – Alun Kota Kediri. monumen tersebut diresmikan dan di bubuhi tanda tangan oleh Wali Kota Kediri Drs. Soedarmanto, Bupati Kediri Letkol Siswo Harjoko, dan Pangdam VIII Brawijaya, Mayor Jenderal Widjojo Soejono.
Di atas tanda tangan Walikota Kediri dan Bupati Kediri dituliskan sebuah kata-kata sebagai berikut:

“Monumen ini diabadikan kepada Generasi2 Yad[10]
Sebagai pewaris nilai2 perjuangan 1945

Atas nama masyarakat Daerah Kabupaten dan Kotamadya Kediri
Walikota Kepala Daerah                                 Bupati Kepala Daerah


Drs. Soedarmanto                                             Letkol Siswo Harjoko”


Daftar Rujukan:
Miyamoto, dalam Rahardjo, Pamoe. 1993. Tentara Peta (Pembela Tanah Air) : Mengawali Proklamasi 17 Agustus 1945 Mulai dari Rengasdengklok. Jakarta: YAPETA
Dahlan, Halwi. 2017. Konfrontasi Republik Indonesia dengan Militer Jepang Menjelang Masuknya Sekutu 1945-1946. Patanjala. Bandung. BPNB Jawa Barat.
Yauwerissa, L & Pusat Sejarah POLRI. 2013. Pasukan Polisi Istimewa: Prajurit Istimewa dalam Perjuangan Kemerdekaan di Jawa Timur. Yogyakarta: Mata Padi Pressindo
Soerahmad, Soejoedi. 2000. Soerahmad: Profil Seorang Prajurit Pejuang. Jakarta: Millenium Publisher

*Penulis : Novi BmW, Kediri, 05/11/2019

[1] Miyamoto, dalam Rahardjo, Pamoe. 1993. Tentara Peta (Pembela Tanah Air) : Mengawali Proklamasi 17 Agustus 1945 Mulai dari Rengasdengklok. Jakarta: YAPETA, hlm. 119
[2] Dahlan, Halwi. 2017. Konfrontasi Republik Indonesia dengan Militer Jepang Menjelang Masuknya Sekutu 1945-1946. Patanjala. Bandung. BPNB Jawa Barat. hlm. 71
[3] Gedung di area Pengadilan Negeri Kediri, seberanng LAPAS Mojoroto, rapat koordinasi gabungan antara PETA dan Tokubetsu Keitsatsu Tai persiapan pelucutan senjata
[4] Yauwerissa, L & Pusat Sejarah POLRI. 2013. Pasukan Polisi Istimewa: Prajurit Istimewa dalam Perjuangan Kemerdekaan di Jawa Timur. Yogyakarta: Mata Padi Pressindo, hlm.44
[5] Syucokan / residen Kediri, R. Abdulrahim Pratalikrama selain sebagai Residen Kediri masa pendudukan Jepang,, beliau juga merupakan salah satu dari 60 aggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
[6] Sekarang menjadi kompleks ruko Jl. Brawijaya, di barat SD Katolik St. Maria Kota Kediri.
[7] ibid, hlm.45
[8] Soerahmad, Soejoedi. 2000. Soerahmad: Profil Seorang Prajurit Pejuang. Jakarta: Millenium Publisher, hlm.26-28
[9] ibid,hlm.58-63
[10] “Yad” singkatan dari Yang Akan Datang

Senin, 17 April 2017

Kaos Garuda Mukha


Garudamukha Lancana Prasasti Jepun
by. Ferry Riyandika
Garuda merupakan putra Rsy Kasyapa dengan Dewi Winata. Demi membebaskan Ibunda tercinta dari perbudakan Para Naga, maka Garuda rela mencuri air Amrta yang dimiliki Para Dewa.

Namun dalam perjuangan mengambil air suci Amrta tersebut, Garuda harus berhadapan dengan para Dewa. Aksi nya tersebut dapat dihentikan oleh Dewa Wisnu. Garuda dapat membawa air Amrta dengan syarat ia menjadi kendaraan Dewa Wisnu

Garuda sebagai simbol pembebasan ibu pertiwi dari belenggu perbudakan dan penjajahan pernah digunakan sebagai lancana Sri Maharaja Dharmawangsa Airlangga (932 – 974 Saka) dengan nama “Garudamukha Lancana”. Raja Airlangga pada tahun 974 Saka membagi wilayah kerajannya menjadi dua (2), yaitu Bumi Panjalu (Kadhiri) dan Bumi Janggala.
------------------------------
Kaos Garuda Mukha ri Bumi Kadhiri
by. Cittaka Dhomas
Dari mitologi dan riwayat sejarah Lancana Garuda Mukha, oleh karena itu di produksilah Kaos bertema Garuda Mukha ri Bumi Kadhiri. hal ini sebagai salah satu upaya sosialisasi warisan leluhur Indonesia.

Rabu, 15 Februari 2017

MISTERI 3 ARCA KANDANGAN

Arca Unfinish 1
Kandangan merupakan kecamatan ujung timur dari Kabupaten Kediri. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Malang di sebelah timur dan Kabupaten Jombang di sebelah utara. Ekspedisi Bumi Kadhiri yang dilakukan Komunitas PASAK (Pelestari Sejarah – Budaya Kadhiri) telah mengunjungi beberapa tinggalan arkeologis di wilayah Kandangan ini. Untuk kali ini akan kita bahas mengenai Kunjungan menuju 3 Arca di pinggir jalan raya Jombang - Kandangan.

Sebelumnya Ekspedisi Bumi Kadhiri kali ini bertujuan Re Inventarisasi Potensi Cagar Budaya di wilayah Kec.Kandangan, terlebih dahulu kami mengunjungi kumpulan Arca yang terpajang di pinggir jalan Jombang – Kandangan, tepatnya berada di sudut pertigaan menuju SMAN 1 Kandangan. Lokasi ini masuk di Dusun Kebondalem, Ds. Kandangan, Kec. Kandangan, Kab. Kediri dengan koordinat UTM 49 641118 9143463 569ft.

Terdapat tiga buah arca yang ditata berjajar, namun sayang wujud arca terlihat masih belum sempurna dibuat (unfinish). Adapun wujud arca –arca tersebut sebagai mana berikut:

1.      Arca Unfinish 1
Arca ini dalam inventarisasi BPCB Jawa Timur bernomor registrasi 45/KDR/1990. Adapun wujud arca digambarkan hanya setengah badan saja (pinggang ke atas). Posisi arca dalam sikap berdiri samabangga dan stella nya dibuat ganda. Secara samar terlihat semaca belalai di kepala arca. Jika benar objek tersebut adalah belalai, maka dimungkinkan jika arca ini ingin dibentuk sebagai arca Dewa Ganesha.

2.      Arca Unfinish 2
Arca ini dalam inventarisasi BPCB Jawa Timur bernomor registrasi 46/KDR/1990. Lokasinya diletakkan disamping arca 1. Posisisnya dalam sikap berdiri samabhangga dengan stela ganda. Bertangan dua, dimana tangan kanan membawa trisula sedangkan tangan kiri ditekuk pada muka dada. Secara samar terlihat Memakai jatamakuta yang dilengkapi dengan ardhacandrakapala di tengah makutanya. Dengan petunjuk semacam itu dimungkinkan arca ini merupakan arca Dewa Siwa.
Arca 2

3.      Arca Unfinish 3
Arca ini dalam inventarisasi BPCB Jawa Timur bernomor registrasi 47/KDR/1990. Diletakkan disamping arca 1 dan Arca 2. Sikap berdiri samabhangga. Bertangan dua, dimana tangan kanan belum selesai dikerjakan dan tangan kiri dalam posisi lurus ke bawah.
Arca 3

Mengenai keberadaan arca tersebut, masyarakat yang kami wawancarai tidak tahu asal usul arca. Sejak zaman nenek mereka, posisi arca telah berada di situ. Melihat konteksnya Arca ini dekat dengan temuan lain, yaitu Arca Nandi Kebondalem yang berjarak sekitar 500 m dari lokasi 3 arca dan juga Situs Bioro yang berjarak sekitar 1 km dari lokasi. Ada yang berpendapat jika wilayah Kebondalem pada zaman dahulu merupakan bekas bengkel arca.

Mengenai usia 3 arca Kandangan ini masih belum dapat ditentuan secara pasti. Namun secara kontekstual lokasi arca dekat dengan Situs Bioro yang ditemukan isnkripsi tahun 1171 Saka. Sehingga setidaknya masyarakat pendukung kebudayaan di sekitar Kebondalem kuno telah ada pada tahun 1171 Saka (1249 M).


*Novi BMW-Galih Jati-Mas Jeje-Arifudin-Wanda*

Minggu, 29 Januari 2017

KAOS LASKAR JAYAKATWANG

Judul : Laskar Jayakatwang
Kain : Combet 30S
Harga : 80K
Ukuran : M, L, XL
Gambar Kaos ini terinspirasi atas peristiwa pengibaran bendera merah dan putih pada tahun 1214 Saka (1292 M)oleh Pasukan Sri Jayakatwang dari Kerajaan Glang-Glang. Peristiwa tersebut terjadi pada saat penyerangan Pasukan Sri Jayakatwang meruntuhkan Kerajaan Tumapel (kini di daerah Malang). Peristiwa ini termuat dalam Prasasti Kudadu (1216 C/ 1294 M) pada lempeng IVb disebutkan :
“....samangkana, hana ta tunggul ning satru layulayu katon wetani haniru, bang lawan putih warnanya....”(Boechari, 1986)
artinya  :
“.....ketika itu, muncul bendera dari musuh berlari lari terlihat di sebelah timur, merah dan putih warnanya.... ” (Munib, 2011)

Begitu pula dalam Prasasti Gajah Mada 1273 Saka (1351 M), diceritakan pula tentang wafatnya Sri Maharaja Krtanegara pada tahun 1214 Saka, karena serangan Sri Jayakatwang tersebut. adapun kutipan Prasasti Gajah Mada tersebut ialah :
1.                   / 0 / ‘i śaka ; 1214 ; jyeṣṭa māsa ; ‘irika diwaśani
2.                   kamoktan. pāduka bhaṭāra sang lumah ring śiwa buddha 
artinya:
1.                   /0/ pada (tahun) saka;1214; pada bulan jyesta (15 mei – 15 juni);pada saat itulah
2.                   Berpulang. Paduka Bhatara (Sri Krtanegara) yang wafat (bersatu) ke (dunia) Siwa Budha 

Dari kutipan Prasasti Kudadu tersebut pemakaian bendera berwarna bang (merah) dan putih digunakan oleh pasukan Kerajaan Glang-Glang yang pusat ibukotanya kala itu telah berpindah dari Bumi Wurawan ke nagara Daha, i bhumi Kadhiri. Pendiri negara Indonesia mengambil warna Merah dan Putih untuk bendera negara karena salah satu sebabnya terinspirasi peristiwa penyerangan Jayakatwang yang terjadi pada tahun 1214 Saka (1292 M). Oleh hal tersebut, maka kami abadikan peristiwa pengibaran bendera merah dan putih tahun 1214 Saka oleh pasukan Raja Jayakatwang dalam bentuk kaos.

Kaos Depan:
Pada sisi Kaos bagian depan akan diisi oleh gambar yaitu digambarkan seorang Prajurit berkuda dengan membawa tombak berbendera pada tangan kanannya. Posisi kuda berada di tepi jurang dengan sikap kedua kaki diangkat keatas, seolah-olah mengerim mendadak.  Di bawah gambar akan ditulisi “LASKAR JAYAKATWANG” Adapun wujud bendera dalam kaos, kami terinspirasi dari sebuah relief pada Candi Penataran. Dimana pada relief cerita Kresnayana pada Candi induk Penataran terdapat seorang prajurit membawa sebuah tombak berbendera. Wujud bendera berupa kain bendera yang berbentuk persegi dengan hiasan rumbai-rumbai pada bagian bawahnya dengan terlihat motif sulur yang seakan membelah kain persegi menjadi dua.
 
Prajurit berbendera di Candi Penataran
Bagian Belakang:
Pada bagian belakang Kaos di ujung atas diberi label branding PASAK, kemudian pada bidang punggung bertuliskan :

....ring samangkana,
hana ta tunggul ning satru
layulayu katon wetani haniru,
bang lawan putih warnanya....
Artinya:

.....pada saat itu,
muncul bendera dari musuh (pasukan Sri Jayakatwang)
berkibar-kibar terlihat di sebelah timur Haniru,
merah dan putih warnanya....

(Prasasti Kudadu 1216 Çaka, Lempeng 4b)

Rabu, 21 Oktober 2015

Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette “Penemuan Kembali Watu Gajah”

Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette
“Penemuan Kembali Watu Gajah”

L.A. van der ven Renardel de Lavalette
Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette (1872 - 1946) merupakan salah satu keluarga besar “Lavalette”.  Keluarga besar Lavalette memang cukup terkenal di Jawa Timur, bahkan nama keluarga ini diabadikan sebagai nama sebuah Ruah Sakit di Kota Malang, yaitu RS. Lavalette. Pendiri rumah sakit tersebut adalah Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette, ialah saudara kakek dari Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette.

Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette lahir di Probolinggo pada tanggal 17 September 1872. Dia pernah kuliah di Universitas Wageningen jurusan Pertanian sekitar tahun 1891 – 1894. kemudian diapun kembali ke Hindia – Belenda untuk mendapatkan pengalaman kerjanya. Pada tahun 1909 ia berhasil menjadi Anggota v / d-Regional Dewan Rembang pada tahun 1909. Kemudian pindah menjadi kepala Kehutanan di wilayah Pare, Kediri.

Leendert Albert van de Ven menikah dengan wanita pribumi Jawa, bernama Millah dan dikaruniai  tiga anak, yaitu Anna van de Ven Renardel de Lavalette  (1900-1975), Margot van de Ven Renardel de Lavalette (1901-1974) makamnya ada di Makam Sukun Kota Malang, dan Jan van de Ven Renardel de Lavalette (1902-1966).

Saat Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette menjadi kepala kehutanan di Pare, ia memiliki pengalaman unik. Suatu hari sambil mengendarai bendy, ia melakukan survei ke hutan di wilayah Pare, tepatnya kini masuk Desa Gadungan, Kec. Puncu. Di salah satu jalan setapak di hutan, bendy yang dinaikinya menabrak bongkahan batu hingga rusak. ia pun kesal, karena sering saat melawati daerah tersebut selalu terganggu dengan bongkahan batu batu yang disebut "watu sandungan" itu. Iapun kemudian menyuruh para kuli untuk menggali batu tersebut untuk di enyahkan dari tengah jalan.

Setelah para kuli menggali batu ditengah jalan di hutan pare tersebut, Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette kaget dengan penampakan batu tersebut secara lebih jelas. Bongkahan batu yang tertanam di tengah jalan tersebut ternyata berukir layaknya arca. Ukiran batu tersebut menggambarkan seekor gajah dengan anak nya. Oleh karena hal tersebut dirasa unik, maka ia memerintahkan untuk memindahkan batu tersebut di pinggir jalan. Dan memberinya tempat khusus di hutan tersebut. Kini batu temuan Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette tersebut dikenal masyarakat dengan nama Watu Gajah, di Dusun Sumberbage (Sumber Bahagia) Desa Gadungan, Kec. Puncu, Kab. Kediri.

Watu Gajah awal penemuan
Pada tanggal 21 Februari 1926, Organisasi N.I.N.H.V. (Ned.Ind. Nat.Hist.Ver.) mengadakan kunjungan ke Kediri. Mereka disambut baik oleh Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette. Ia pun menjadi pemandu untuk berkeliling daerah pare. Terutama berkunjung ke temuan Batu Gajah di tengah hutan Pare, serta berfoto bersama di bawah pohon beringin raksasa, yang hingga kini pohon tersebut masih kokoh berdiri di Desa Gadungan, Kec. Puncu, Kab. Kediri.

L.A. van de Ven foto bersama rombongan N.I.N.H.V di bawah Pohon Beringin di Desa Gadunganke Paree, 21 Februari 1926
Sumber : http://pentalpha.nl/baroe/index.php/contacts-2/arnoldus-2/95-zondermeer?start=50 
Pada tahun 1926 – 1938 kariernya berada di daerah Blitar, Dep. Walikota Blitar tahun 1930, Dewan Kota Anggota 1926-1938 Blitar, Blitar kota anggota dewan 1936-1938. Hingga ajal menjemputnya di tahanan Jepang sekitar tahun 1946. Ia ditahan di tahanan Tlogo, Blitar dan juga Karangtengah Kota Blitar. Tidak diketahui di mana makamnya berada, setelah wafat dalam tahanan Jepang.



Sumber Bacaan : 
http://javapost.nl/2015/10/09/de-stenen-olifant-van-paree/
http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/26?q_searchfield=pare 

Jumat, 08 Februari 2013

SITUS PONIJO



SITUS PONIJO 
Membuat Bata nemu Bata


Awal tahun 2007 telah digegerkan dengan penemuan kompleks Candi Tondowongso di Desa Gayam, Kec. Gurah, Kab. Kediri. Ditahun yang sama dan di desa yang sama pula, di belakang rumah Ponijo (62) ditemukan struktur bangunan kuno pula. Jarak antara rumah Ponijo dan Situs Candi Tondowongso sekitar 450 m (Ekawati, L dkk, 2008).
Situs Ponijo

Ponijo tidak menyangka ditengah kegiatannya menggali tanah untuk membuat batu bata malah menemukan struktur batu bata besar. Pada saat menggali tanah hingga kedalaman sekitar 1 m lebih cangkulnya membentur bata-bata besar. Kemudian diperlebar hingga membentuk sebuah struktur bangunan rapi. Kecurigaan akan temuan tersebut sama dengan Situs Tondowongso yang ditemukan awal tahun, maka hal tersebut di laporkan ke Munawar (Carik Desa Gayam) dan BP3 Jatim (sekarang BPCB Jatim).

Kabar temuan bangunan kuno di belakang rumah Pak Ponijo tersebut didengar pula oleh Santoso, warga asal Pare. Ia beserta warga membantu untuk membuka lebih lebar temuan struktur tersebut. Hasilnya di sisi sebelah barat dan timur terdapat struktur batu bata yang memiliki menara pejal, salah satu menara yang terlepas disimpan di rumah Pak Ponijo.
Menara Situs Ponijo yang terlepas dari struktur utama

Pada tahun 1957 ditemukan Candi Gurah (lokasi Dsn. Sentul, Ds. Tirulor, Kec.Gurah), pada awal tahun 2007 pada jarak sekitar 200 m arah utara Candi Gurah ditemukan Candi Tondowongso. Pertengahan tahun 2007 pada jarak sekitar 450 m arah barat kedua temuan sebelumnya, ditemukan struktur bangunan kuno di belakang rumah Bapak Ponijo. Dan akhir tahun 2012 di sebelah barat Candi Tondowongso yang terbuka tahun 2007, ditemukan lagi struktur dinding/tembok lanjutannya.

  
Ekawati, L. 2008. Laporan Penelitian Arkeologi Arsitektur Candi Tondowongso, Kediri, Jawa Timur: Balai Arkeologi Yogyakarta