Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2017

MISTERI 3 ARCA KANDANGAN

Arca Unfinish 1
Kandangan merupakan kecamatan ujung timur dari Kabupaten Kediri. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Malang di sebelah timur dan Kabupaten Jombang di sebelah utara. Ekspedisi Bumi Kadhiri yang dilakukan Komunitas PASAK (Pelestari Sejarah – Budaya Kadhiri) telah mengunjungi beberapa tinggalan arkeologis di wilayah Kandangan ini. Untuk kali ini akan kita bahas mengenai Kunjungan menuju 3 Arca di pinggir jalan raya Jombang - Kandangan.

Sebelumnya Ekspedisi Bumi Kadhiri kali ini bertujuan Re Inventarisasi Potensi Cagar Budaya di wilayah Kec.Kandangan, terlebih dahulu kami mengunjungi kumpulan Arca yang terpajang di pinggir jalan Jombang – Kandangan, tepatnya berada di sudut pertigaan menuju SMAN 1 Kandangan. Lokasi ini masuk di Dusun Kebondalem, Ds. Kandangan, Kec. Kandangan, Kab. Kediri dengan koordinat UTM 49 641118 9143463 569ft.

Terdapat tiga buah arca yang ditata berjajar, namun sayang wujud arca terlihat masih belum sempurna dibuat (unfinish). Adapun wujud arca –arca tersebut sebagai mana berikut:

1.      Arca Unfinish 1
Arca ini dalam inventarisasi BPCB Jawa Timur bernomor registrasi 45/KDR/1990. Adapun wujud arca digambarkan hanya setengah badan saja (pinggang ke atas). Posisi arca dalam sikap berdiri samabangga dan stella nya dibuat ganda. Secara samar terlihat semaca belalai di kepala arca. Jika benar objek tersebut adalah belalai, maka dimungkinkan jika arca ini ingin dibentuk sebagai arca Dewa Ganesha.

2.      Arca Unfinish 2
Arca ini dalam inventarisasi BPCB Jawa Timur bernomor registrasi 46/KDR/1990. Lokasinya diletakkan disamping arca 1. Posisisnya dalam sikap berdiri samabhangga dengan stela ganda. Bertangan dua, dimana tangan kanan membawa trisula sedangkan tangan kiri ditekuk pada muka dada. Secara samar terlihat Memakai jatamakuta yang dilengkapi dengan ardhacandrakapala di tengah makutanya. Dengan petunjuk semacam itu dimungkinkan arca ini merupakan arca Dewa Siwa.
Arca 2

3.      Arca Unfinish 3
Arca ini dalam inventarisasi BPCB Jawa Timur bernomor registrasi 47/KDR/1990. Diletakkan disamping arca 1 dan Arca 2. Sikap berdiri samabhangga. Bertangan dua, dimana tangan kanan belum selesai dikerjakan dan tangan kiri dalam posisi lurus ke bawah.
Arca 3

Mengenai keberadaan arca tersebut, masyarakat yang kami wawancarai tidak tahu asal usul arca. Sejak zaman nenek mereka, posisi arca telah berada di situ. Melihat konteksnya Arca ini dekat dengan temuan lain, yaitu Arca Nandi Kebondalem yang berjarak sekitar 500 m dari lokasi 3 arca dan juga Situs Bioro yang berjarak sekitar 1 km dari lokasi. Ada yang berpendapat jika wilayah Kebondalem pada zaman dahulu merupakan bekas bengkel arca.

Mengenai usia 3 arca Kandangan ini masih belum dapat ditentuan secara pasti. Namun secara kontekstual lokasi arca dekat dengan Situs Bioro yang ditemukan isnkripsi tahun 1171 Saka. Sehingga setidaknya masyarakat pendukung kebudayaan di sekitar Kebondalem kuno telah ada pada tahun 1171 Saka (1249 M).


*Novi BMW-Galih Jati-Mas Jeje-Arifudin-Wanda*

Rabu, 21 Oktober 2015

Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette “Penemuan Kembali Watu Gajah”

Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette
“Penemuan Kembali Watu Gajah”

L.A. van der ven Renardel de Lavalette
Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette (1872 - 1946) merupakan salah satu keluarga besar “Lavalette”.  Keluarga besar Lavalette memang cukup terkenal di Jawa Timur, bahkan nama keluarga ini diabadikan sebagai nama sebuah Ruah Sakit di Kota Malang, yaitu RS. Lavalette. Pendiri rumah sakit tersebut adalah Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette, ialah saudara kakek dari Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette.

Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette lahir di Probolinggo pada tanggal 17 September 1872. Dia pernah kuliah di Universitas Wageningen jurusan Pertanian sekitar tahun 1891 – 1894. kemudian diapun kembali ke Hindia – Belenda untuk mendapatkan pengalaman kerjanya. Pada tahun 1909 ia berhasil menjadi Anggota v / d-Regional Dewan Rembang pada tahun 1909. Kemudian pindah menjadi kepala Kehutanan di wilayah Pare, Kediri.

Leendert Albert van de Ven menikah dengan wanita pribumi Jawa, bernama Millah dan dikaruniai  tiga anak, yaitu Anna van de Ven Renardel de Lavalette  (1900-1975), Margot van de Ven Renardel de Lavalette (1901-1974) makamnya ada di Makam Sukun Kota Malang, dan Jan van de Ven Renardel de Lavalette (1902-1966).

Saat Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette menjadi kepala kehutanan di Pare, ia memiliki pengalaman unik. Suatu hari sambil mengendarai bendy, ia melakukan survei ke hutan di wilayah Pare, tepatnya kini masuk Desa Gadungan, Kec. Puncu. Di salah satu jalan setapak di hutan, bendy yang dinaikinya menabrak bongkahan batu hingga rusak. ia pun kesal, karena sering saat melawati daerah tersebut selalu terganggu dengan bongkahan batu batu yang disebut "watu sandungan" itu. Iapun kemudian menyuruh para kuli untuk menggali batu tersebut untuk di enyahkan dari tengah jalan.

Setelah para kuli menggali batu ditengah jalan di hutan pare tersebut, Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette kaget dengan penampakan batu tersebut secara lebih jelas. Bongkahan batu yang tertanam di tengah jalan tersebut ternyata berukir layaknya arca. Ukiran batu tersebut menggambarkan seekor gajah dengan anak nya. Oleh karena hal tersebut dirasa unik, maka ia memerintahkan untuk memindahkan batu tersebut di pinggir jalan. Dan memberinya tempat khusus di hutan tersebut. Kini batu temuan Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette tersebut dikenal masyarakat dengan nama Watu Gajah, di Dusun Sumberbage (Sumber Bahagia) Desa Gadungan, Kec. Puncu, Kab. Kediri.

Watu Gajah awal penemuan
Pada tanggal 21 Februari 1926, Organisasi N.I.N.H.V. (Ned.Ind. Nat.Hist.Ver.) mengadakan kunjungan ke Kediri. Mereka disambut baik oleh Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette. Ia pun menjadi pemandu untuk berkeliling daerah pare. Terutama berkunjung ke temuan Batu Gajah di tengah hutan Pare, serta berfoto bersama di bawah pohon beringin raksasa, yang hingga kini pohon tersebut masih kokoh berdiri di Desa Gadungan, Kec. Puncu, Kab. Kediri.

L.A. van de Ven foto bersama rombongan N.I.N.H.V di bawah Pohon Beringin di Desa Gadunganke Paree, 21 Februari 1926
Sumber : http://pentalpha.nl/baroe/index.php/contacts-2/arnoldus-2/95-zondermeer?start=50 
Pada tahun 1926 – 1938 kariernya berada di daerah Blitar, Dep. Walikota Blitar tahun 1930, Dewan Kota Anggota 1926-1938 Blitar, Blitar kota anggota dewan 1936-1938. Hingga ajal menjemputnya di tahanan Jepang sekitar tahun 1946. Ia ditahan di tahanan Tlogo, Blitar dan juga Karangtengah Kota Blitar. Tidak diketahui di mana makamnya berada, setelah wafat dalam tahanan Jepang.



Sumber Bacaan : 
http://javapost.nl/2015/10/09/de-stenen-olifant-van-paree/
http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/26?q_searchfield=pare 

Jumat, 08 Februari 2013

SITUS PONIJO



SITUS PONIJO 
Membuat Bata nemu Bata


Awal tahun 2007 telah digegerkan dengan penemuan kompleks Candi Tondowongso di Desa Gayam, Kec. Gurah, Kab. Kediri. Ditahun yang sama dan di desa yang sama pula, di belakang rumah Ponijo (62) ditemukan struktur bangunan kuno pula. Jarak antara rumah Ponijo dan Situs Candi Tondowongso sekitar 450 m (Ekawati, L dkk, 2008).
Situs Ponijo

Ponijo tidak menyangka ditengah kegiatannya menggali tanah untuk membuat batu bata malah menemukan struktur batu bata besar. Pada saat menggali tanah hingga kedalaman sekitar 1 m lebih cangkulnya membentur bata-bata besar. Kemudian diperlebar hingga membentuk sebuah struktur bangunan rapi. Kecurigaan akan temuan tersebut sama dengan Situs Tondowongso yang ditemukan awal tahun, maka hal tersebut di laporkan ke Munawar (Carik Desa Gayam) dan BP3 Jatim (sekarang BPCB Jatim).

Kabar temuan bangunan kuno di belakang rumah Pak Ponijo tersebut didengar pula oleh Santoso, warga asal Pare. Ia beserta warga membantu untuk membuka lebih lebar temuan struktur tersebut. Hasilnya di sisi sebelah barat dan timur terdapat struktur batu bata yang memiliki menara pejal, salah satu menara yang terlepas disimpan di rumah Pak Ponijo.
Menara Situs Ponijo yang terlepas dari struktur utama

Pada tahun 1957 ditemukan Candi Gurah (lokasi Dsn. Sentul, Ds. Tirulor, Kec.Gurah), pada awal tahun 2007 pada jarak sekitar 200 m arah utara Candi Gurah ditemukan Candi Tondowongso. Pertengahan tahun 2007 pada jarak sekitar 450 m arah barat kedua temuan sebelumnya, ditemukan struktur bangunan kuno di belakang rumah Bapak Ponijo. Dan akhir tahun 2012 di sebelah barat Candi Tondowongso yang terbuka tahun 2007, ditemukan lagi struktur dinding/tembok lanjutannya.

  
Ekawati, L. 2008. Laporan Penelitian Arkeologi Arsitektur Candi Tondowongso, Kediri, Jawa Timur: Balai Arkeologi Yogyakarta

Selasa, 22 Januari 2013

CANDI GURAH

Reruntuhan Candi Gurah
(Soekmono, 1969)


Candi Gurah?? Taukah anda lokasi Candi ini??
Mayoritas penduduk Kediri bahkan warga Kecamatan Gurah pasti tidak mengetahui. Saat di tanya hal tersebut, alih-alih mereka menunjuk Candi Sumber Cangkring maupun Candi Tondowongso yang penemuannya menggegerkan Indonesia pada tahun 2007 lalu.

Jika pada tahun 2007 lalu tidak ditemukannya Situs Tondowongso, maka kemungkinanan besar nama Candi Gurah tidak akan di ingat lagi, bahkan terlupakan begitu saja. Penelitian dimasa silam yang menyimpan bukti kejayaan Kerajaan Kadhiri dan tema Nasioanal yang terancam terlupakan, terkubur dalam tumpukan laporan yang tiada guna lagi.

Pada tahun 1957 di dusun Sentul, Desa Tiru Lor, Kecamatan Gurah pernah ditemukan sejumlah arca dan struktur bangunan di areal lahan milik Pak Said. Lalu apa hubungannya dengan penemuan Situs Tondowongso? Ternyata lokasinya hanya berjarak 200 m lurus arah selatan Candi Tondowongso yang ditemukan tahun 2007 lalu. Bahkan menurut Tim Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta ada indikasi kuat bahwa antara Candi Tondowongso dan Candi Gurah adalah satu Kompleks percandian yang luas.

Hasil penelitian Bapak Soekmono (1958-1959) di Dusun Sentul tersebut terdapat sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara yang terletak di depannya. Serta arca-arca yang di temukan dalam bilik candi perwara.  Arca-arca tersebut adalah Brahma, Candra, Surya, Nandi dan Yoni (Ekawati, L. 2008: 37).
Temuan arca dari Candi Gurah maupun Candi Tondowongso mempunyai persamaan, yaitu arca Brahma, Candra, Surya, Nandi, dan Yoni. Cara penempatan arca-arca di kedua candi dapat dikatakan sama, meskipun bangunan tempat arca Candra, Surya dan Nandi dari Tondowongso belum jelas bentuknya.
Arca Brahma Candi Gurah
(Soekmono, 1969)

Hasil penelitian Bapak Soekmono (1958-1959) ukuran Candi Induk Candi Gurah adalah 9,50 x 9,50 m2. Sedangkan Candi induk Candi Tondowongso hanya berukuran 8 x 8 m2. Dari perbandingan tersebut terlihat bahwa Candi Gurah lebih besar dari pada Candi Tondowongso. 
Salah Satu sudut Candi Gurah
(Soekmono, 1969)

Bapak Soekmono (1969) menduga bahwa Candi Gurah yang berada satu kompleks dengan Candi Tondowongso merupakan bangunan yang memiliki gaya khas (Kadiri stile) yang merupakan gaya peralihan antara banguanan candi gaya Jawa Tengahan dan gaya Jawa Timuran (tema nasional). Oleh karenanya, penelitian total terhadap Candi Tondowongso sangat penting untuk di lakukan. Karena selama ini belum ada wujud nyata bentuk bangunan gaya peralihan tersebut. Selain itu Candi Tondowongso merupakan aset wisata pendidikan sejarah yang sangat besar dimiliki Kabupaten Kediri. Sebelum mengalami kerusakan lebih parah, harus dilakukan penyelamatan dan pengelolaan yang professional terhadap asset besar tersebut.

Ekawati, L. 2008. Arca-Arca Dari Candi Tondowongso Dan Candi Gurah, Kediri. Berkala Arkeologi. Tahun XXVIII No. 2: 43-54. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta

Soekmono. 1969. Gurah the link between the central and the East Javanese arts. Bulletin of the    Archaeological Institute of the Republic of Indonesia

Senin, 31 Desember 2012

Penemuan Prasasti Brumbung III???



Prasasti Brumbung III
Legenda ataukah Fakta???
Koleksi Museum Desa Brumbung

Desa Brumbung, Kec. Kepung, Kab. Kediri Jawa Timur, merupakan daearah kuno yang telah ada jauh sebelum Indonesia Merdeka. Hal ini di buktikan dengan diketemukannya 2 Prasasti yang berasal pada masa Kerajaan di Kadhiri dan Kerajaan Majapahit. Prasasti pertama disebut Prasasti Gneng I/ Brumbung I, dan yang kedua disebut Prasasti Gneng II/Brumbung II.
menurut masyarakat sekitar Brumbung, masih ada sdtu lagi Prasasti yang terpendam di daerah lemah watu tulis. Tepatnya di tanah mlik Bapak Purwito.

untuk membuktikan cerita yang telah lama beredar, maka pada tgl 25 Desember 2013 lalu, telah di adakan pencarian dan pembuktian akan keberadaan prasast tersebut.
penggalian tanah pun dilakukan di situs lemah weatu tulis. Kebetulan I situs yang berada di tanah daerah milik Bapak Purwito tersebut, baru saja mengalami masa panen.  

Penggalian pada hari pertama tersebut ternyata tidak menemukan Batu Prasasti yang di ceritakan, namun menemukan struuktur batu persegi  dan beberapa keramik Cina. Sebuah umpak yang terguling dan serpihan batu-bata kuno. Namun warga tetap ingin mencari ke beberapa titik yang diduga lokadi prassati keya, hingga ketemu. 

Kala itu bertepatan pula sengan kunjungan Komunitas PASAK yang senang melanjutkan pengumpulan data tentang sejarah Desa Brumbung. Oleh karenanya pada hari Rabu, 26 Desember 2012 dibuatkan dan dikirimkan surat keberadaan situs lemah Watu Tulis tersebut.

Candi Tondowongso Digrogoti Akar Rumput


APA KABAR SITUS TONDOWONGSO??


Sejarah Kerajaan Panjalu di bhumi Kadiri masih cukup gelap. Beberapa prasasti yang telah diketumukan mayoritas sudah aus, dan ada beberapa yang masih dapat dibaca namun ada pula yang belum diterbitkan. Dahulu masa Kerajaan Panjalu terkenal dengan kerajaan yang kaya karya sastra tapi miskin bukti arkeologis berupa bangunan monumental, seperti candi, gapura, pathirtan, maupun kompleks keraton. Namun dengan ditemukannya beberapa bukti arkeologis berupa bangunan Candi maupun Pathirtan belakangan ini, sedikit demi sedikit mampu menyangkal pernyataan tersebut. Selama ini banyak bangunan bukti peradaban bhumi Kadiri masih tersingkap di bawah tanah, diselimuti material vulkanis dari erupsi Gunung Kelud selama berabad abad.

Pertengahan bulan Oktober 2012 lalu telah dilakukan ekskavasi Tahap V di Candi Tondowongso oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. Lahan area situs telah dibersihan dari tetumbuhan yang liar menggurita. Namun 2 bulan berselang, setelah tim peneliti pulang. Bagaimanakah kondisi situs ini??
apakah saran pembersihan rutin di area situs utama dilaksanakan dengan baik??
dan bagaimanakah kondisi Candi terluas di Jatim ini??

Penelitian terhadap Situs Tondowongso telah diprogramkan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta dalam program tahunan Penelitian Situs Tondowongso. Program penelitian ini direncanakan dalam tujuh tahap, dimulai sejak tahun 2008 (Tahap I) dan akan berakhir pada tahun 2014 (Tahap VII).

Beginilah hasil survei teman2 PASAK pada Kamis 27 Desember 2012 lalu.
Foto Abdi Setiawan

Sunguh mengejutkan, dari foto tersebut terlihat bahwa bangunan dari batu bata yang telah rapuh tersebut ditumbuhi dan digerayangi akar2 rerumputan serta tetumbuhan yang liar menggurita. 

Kerajaan Kadiri merupakan salah satu kerajaan besar yang masih kurang dalam penemuan bangunan monumentalnya. Hal ini salah satu penyebabnya adalah masih banyaknya bangunan yang tersingkap oleh muntahan material banjir lahar Gunung Kelud. 

Bapak Soekmono (1969) menyatakan bahwa Candi Gurah (ditemukan tahun 1957) yang berada hanya 200 m arah selatan Candi Tondowongso (di-identifikasi satu kompleks luas) merupakan bangunan yang memiliki gaya khas (Kadhiri style) yang merupakan gaya peralihan antara banguanan candi gaya Jawa Tengahan dan gaya Jawa Timuran. Oleh karenanya, penelitian total terhadap Candi Tondowongso sangat penting untuk di lakukan. Karena selama ini belum ada wujud nyata bentuk bangunan gaya peralihan tersebut. 

Candi Tondowongso merupakan aset wisata pendidikan sejarah yang sangat besar dimiliki Kabupaten Kediri. Sebelum mengalami kerusakan lebih parah, harus dilakukan penyelamatan dan pengelolaan yang professional terhadap asset besar tersebut.