Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 November 2019

MAYOR BISMO



Monumen Mayor Bismo di Alun - Alun Kediri

Pendahuluan
15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito meyatakan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat (Sekutu). Berita kekalahan Jepang tersebut didengar pula oleh aktivis – aktivis pemuda Indonesia yang kemudian medesak Sekarno – Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia dari pendudukan Jepang. 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dikumandangkan.
Pihak penguasa militer pedudukan Jepang di Indonesia mengambil sikap menjaga ketertiban, menunggu pasukan sekutu datang dan meyerah secara militer, serta melucuti senjata secara lengkap. 16 Agustus 1945 rapat staf Komando dilaksanakan terkait berita pernyataan Kaisar. Sambil menunggu datangya surat resmi, peserta rapat sepakat untuk menjaga ketertiban, dan keamanan warga Jepang di daerah pendudukan. Selain itu disepakati pula untuk pembubaran seluruh badan pasukan cadangan militer. 17 Agustus 1945 perintah dikeluarkan, seluruh badan pasukan cadangan militer Jepang di daerah pendudukan dibubarkan, terutama PETA, Haiho, Seinendan, Keibodan dan Tokubetsu Keitsatsu Tai serta melucuti persenjataan mereka, namun teknis pelaksanaan pada kesatuan-kesatuan dilaksanakan tiga hari setelah perintah dikeluarkan.[1]

Perjuangan Mayor Bismo
Kata-kata mutiara dari Mayor Bismo
Berita Proklamasi kemerdekaan bangsa Indoesia dan perintah Pembubaran serta pelucutan senjata pasukan cadangan militer Jepang tidak lah berbarengan sampai kepada kesatuan-kesatuan di daerah. Seakan-akan kedua informasi tersebut berlomba-lomba sampai terlebih kepada kesatua-kesatuan militer di pelosok daerah. Pada 19 Agustus 1945, kesatuan – kesatuan PETA dan Heiho Jawa bagian Barat secara seremonial resmi dibubarkan dan berhasil dilucuti.[2] Namun kondisi tersebut berbeda jauh dengan kesatuan - kesatuan di Jawa bagian Timur, terutama di Karesidenan Kediri. 19 Agustus 1945 siang Pelucutan senjata pihak Jepang di Kediri gagal total. Hal tersebut dikarenakan kesatuan-kesatuan PETA, Haiho, dan Tokubetsu Keitsatsu Tai telah bersepakat untuk mendukung mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, yang telah diproklamasikan Sekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.
Sebelumnya, Shudanco Bismo setelah medengarkan siaran radio terkait Proklamasi Kemerdekaan diikrarkan Sekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, segera mengkoordiasikan sikap komandan-komandan PETA Kediri, terutama persetujuan Daidanco Soerahmat. Rapat koordinasi bersama dari berbagai elemen masyarakat Kediri dilaksanakan di Sekolah Taman Siswa (Jl. Pemuda no. 16 Kediri), Shudanco Bismo menginformasikan Proklamasi Kemerdekaan diikrarkan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 dan kondisi pemerintahan pendudukan Jepang kepada seluruh hadirin. Selain itu Shudanco Rustamadji mengadakan rapat pula dengan nito keibu R. Soedarman di markas Tokubetsu Keitsatsu Tai (Polisi)[3].[4] Kemudian setelah dikoordinasikan dengan Syucokan Kediri, R. Abdulrahim Pratalykrama[5], beliau pun medukung dengan melaksanakan rapat besar secara resmi di gedung Societeit Phoenix (Gedung GNI lama). 
19 Agustus 1945 malam hari, rapat bersama antar kesatuan-kesatuan cadangan digelar, dan disepakati malaksanakan pengepungan dan pelucutan senjata ke pos-pos militer tentara Jepang di Kediri. 20 Agustus 1945, sehari setelah pelucutan senjata kesatuan-kesatuan cadangan gagal, ganti pos- pos militer tentara Jepang dilucuti masyarakat Kediri yang dipelopori eks kesatuan-kesatuan cadangan PETA, Haiho, Seiendan, Keibodan dan Tokubetsu Keitsatsu Tai. Pelucutan senjata dimulai dari gudang Kantor polisi Karesiden, kemudian mengepung markas Kempetai. [6] Dari eks PETA dipimpin oleh Shudanco Bismo, dari pihak eks Tokubetsu Keitsatsu Tai dipimpin junsa bucho Miran. Pelucutan senjata di markas kempetai sangat alot dan terjadi perlawanan sengit, sehingga Syucokan Kediri, R. Abdulrahim Pratalykrama perlu turun tangan untuk bernegosiasi dengan pimpinan tentara Jepang. Akhirnya kesepakatan ditentukan, pihak Jepang meyerah dan mempersilahkan pengibaran bendera merah putih menggantikan bendera Hinomaru, serta seluruh senjata pasukan Jepang diserahkan kepada pihak Republik.[7] Shudanco Bismo segera membagi-bagikan senjata kepada pejuang-pejuang Republik.
Keberhasilan misi memobilisasi massa pada awal berita proklamasi kemerdekaan dan kesuksesan pelucutan senjata tetara Jepang di Kediri, menjadikan Shudanco Bismo salah satu pejuang yang disegani lawan maupun kawan. Setelah maklumat pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 22 Agustus 1945 diputuskan, kepiawaian Kapten Bismo tersebut menjadikan beliau dipercaya sebagai Komandan Batalyon Sadhi Yudha, di bawah Brigade S Karesidenan Kediri, begitu pula setelah maklumat 5 Oktober 1945 dimana BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Salah satu jasa besar Kapten Bismo pada awal kemerdekaan adalah menjadikan Brigade S Karesidenan Kediri sebagai Brigade paling kuat, dan paling lengkap persenjataanya dibandingkan Brigade-brigade di daerah lain. Dapat dibandingkan, jika secara nasional persenjataan BKR-TKR pada awal kemerdekaan berbandiang 1 : 3 (1 senjata untuk 3 tetara), sedangkan pada Brigade S sudah 1:1 (1 senjata untuk 1 tentara).[8]

Gugurnya Mayor Bismo
Pada tahun 1948, Presiden Soekarno menyetujui pelaksanaan Rekonstruksi dan Rasionalisasi (RERA) ditubuh Militer yang di ajukan kabinet Perdana Menteri Moh. Hatta. Salah satu kebijakan turunannya adalah di Jawa hanya akan dibagi menjadi 4 Divisi, dan Jawa Timur menjadi Divisi I. Semetara polemik penunjukan Panglima Divisi I berlangsung, dibentuk dahulu Staf Pertahanan Djawa Timur (SPDT) Divisi I. Dari Brigade S, dipilih dua orang untuk menjadi staf SPDT yang berkantor di Madiun, yaitu Kapten Bismo sebagai Kepala Staf I dan Kapten  Kartidjo sebagai kepala Staf III. Namun naas, 18 September 1948, terjadi Pemberontakan kaum Komunis di Madiun. Seluruh anggota SPDT yang baru terbentuk di tahan dan di eksekusi oleh simpatisan pemberontak, Kapten Kartijo berhasil menyelamatkan diri, namun Kapten Bismo gugur sebagai tumbal mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.[9] Sebagai gelar terakhir beliau diaugerahkan gelar Mayor, dan hingga kini kita mengenalnya sebagai Mayor Bismo.
Atas jasa – jasa nya sebagai pejuang yang mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, maka pada 17 Desember 1974 diresmikanlah Monumen Mayor Bismo di Alun – Alun Kota Kediri. monumen tersebut diresmikan dan di bubuhi tanda tangan oleh Wali Kota Kediri Drs. Soedarmanto, Bupati Kediri Letkol Siswo Harjoko, dan Pangdam VIII Brawijaya, Mayor Jenderal Widjojo Soejono.
Di atas tanda tangan Walikota Kediri dan Bupati Kediri dituliskan sebuah kata-kata sebagai berikut:

“Monumen ini diabadikan kepada Generasi2 Yad[10]
Sebagai pewaris nilai2 perjuangan 1945

Atas nama masyarakat Daerah Kabupaten dan Kotamadya Kediri
Walikota Kepala Daerah                                 Bupati Kepala Daerah


Drs. Soedarmanto                                             Letkol Siswo Harjoko”


Daftar Rujukan:
Miyamoto, dalam Rahardjo, Pamoe. 1993. Tentara Peta (Pembela Tanah Air) : Mengawali Proklamasi 17 Agustus 1945 Mulai dari Rengasdengklok. Jakarta: YAPETA
Dahlan, Halwi. 2017. Konfrontasi Republik Indonesia dengan Militer Jepang Menjelang Masuknya Sekutu 1945-1946. Patanjala. Bandung. BPNB Jawa Barat.
Yauwerissa, L & Pusat Sejarah POLRI. 2013. Pasukan Polisi Istimewa: Prajurit Istimewa dalam Perjuangan Kemerdekaan di Jawa Timur. Yogyakarta: Mata Padi Pressindo
Soerahmad, Soejoedi. 2000. Soerahmad: Profil Seorang Prajurit Pejuang. Jakarta: Millenium Publisher

*Penulis : Novi BmW, Kediri, 05/11/2019

[1] Miyamoto, dalam Rahardjo, Pamoe. 1993. Tentara Peta (Pembela Tanah Air) : Mengawali Proklamasi 17 Agustus 1945 Mulai dari Rengasdengklok. Jakarta: YAPETA, hlm. 119
[2] Dahlan, Halwi. 2017. Konfrontasi Republik Indonesia dengan Militer Jepang Menjelang Masuknya Sekutu 1945-1946. Patanjala. Bandung. BPNB Jawa Barat. hlm. 71
[3] Gedung di area Pengadilan Negeri Kediri, seberanng LAPAS Mojoroto, rapat koordinasi gabungan antara PETA dan Tokubetsu Keitsatsu Tai persiapan pelucutan senjata
[4] Yauwerissa, L & Pusat Sejarah POLRI. 2013. Pasukan Polisi Istimewa: Prajurit Istimewa dalam Perjuangan Kemerdekaan di Jawa Timur. Yogyakarta: Mata Padi Pressindo, hlm.44
[5] Syucokan / residen Kediri, R. Abdulrahim Pratalikrama selain sebagai Residen Kediri masa pendudukan Jepang,, beliau juga merupakan salah satu dari 60 aggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
[6] Sekarang menjadi kompleks ruko Jl. Brawijaya, di barat SD Katolik St. Maria Kota Kediri.
[7] ibid, hlm.45
[8] Soerahmad, Soejoedi. 2000. Soerahmad: Profil Seorang Prajurit Pejuang. Jakarta: Millenium Publisher, hlm.26-28
[9] ibid,hlm.58-63
[10] “Yad” singkatan dari Yang Akan Datang

Rabu, 21 Oktober 2015

Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette “Penemuan Kembali Watu Gajah”

Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette
“Penemuan Kembali Watu Gajah”

L.A. van der ven Renardel de Lavalette
Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette (1872 - 1946) merupakan salah satu keluarga besar “Lavalette”.  Keluarga besar Lavalette memang cukup terkenal di Jawa Timur, bahkan nama keluarga ini diabadikan sebagai nama sebuah Ruah Sakit di Kota Malang, yaitu RS. Lavalette. Pendiri rumah sakit tersebut adalah Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette, ialah saudara kakek dari Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette.

Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette lahir di Probolinggo pada tanggal 17 September 1872. Dia pernah kuliah di Universitas Wageningen jurusan Pertanian sekitar tahun 1891 – 1894. kemudian diapun kembali ke Hindia – Belenda untuk mendapatkan pengalaman kerjanya. Pada tahun 1909 ia berhasil menjadi Anggota v / d-Regional Dewan Rembang pada tahun 1909. Kemudian pindah menjadi kepala Kehutanan di wilayah Pare, Kediri.

Leendert Albert van de Ven menikah dengan wanita pribumi Jawa, bernama Millah dan dikaruniai  tiga anak, yaitu Anna van de Ven Renardel de Lavalette  (1900-1975), Margot van de Ven Renardel de Lavalette (1901-1974) makamnya ada di Makam Sukun Kota Malang, dan Jan van de Ven Renardel de Lavalette (1902-1966).

Saat Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette menjadi kepala kehutanan di Pare, ia memiliki pengalaman unik. Suatu hari sambil mengendarai bendy, ia melakukan survei ke hutan di wilayah Pare, tepatnya kini masuk Desa Gadungan, Kec. Puncu. Di salah satu jalan setapak di hutan, bendy yang dinaikinya menabrak bongkahan batu hingga rusak. ia pun kesal, karena sering saat melawati daerah tersebut selalu terganggu dengan bongkahan batu batu yang disebut "watu sandungan" itu. Iapun kemudian menyuruh para kuli untuk menggali batu tersebut untuk di enyahkan dari tengah jalan.

Setelah para kuli menggali batu ditengah jalan di hutan pare tersebut, Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette kaget dengan penampakan batu tersebut secara lebih jelas. Bongkahan batu yang tertanam di tengah jalan tersebut ternyata berukir layaknya arca. Ukiran batu tersebut menggambarkan seekor gajah dengan anak nya. Oleh karena hal tersebut dirasa unik, maka ia memerintahkan untuk memindahkan batu tersebut di pinggir jalan. Dan memberinya tempat khusus di hutan tersebut. Kini batu temuan Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette tersebut dikenal masyarakat dengan nama Watu Gajah, di Dusun Sumberbage (Sumber Bahagia) Desa Gadungan, Kec. Puncu, Kab. Kediri.

Watu Gajah awal penemuan
Pada tanggal 21 Februari 1926, Organisasi N.I.N.H.V. (Ned.Ind. Nat.Hist.Ver.) mengadakan kunjungan ke Kediri. Mereka disambut baik oleh Leendert Albert van de Ven Renardel de Lavalette. Ia pun menjadi pemandu untuk berkeliling daerah pare. Terutama berkunjung ke temuan Batu Gajah di tengah hutan Pare, serta berfoto bersama di bawah pohon beringin raksasa, yang hingga kini pohon tersebut masih kokoh berdiri di Desa Gadungan, Kec. Puncu, Kab. Kediri.

L.A. van de Ven foto bersama rombongan N.I.N.H.V di bawah Pohon Beringin di Desa Gadunganke Paree, 21 Februari 1926
Sumber : http://pentalpha.nl/baroe/index.php/contacts-2/arnoldus-2/95-zondermeer?start=50 
Pada tahun 1926 – 1938 kariernya berada di daerah Blitar, Dep. Walikota Blitar tahun 1930, Dewan Kota Anggota 1926-1938 Blitar, Blitar kota anggota dewan 1936-1938. Hingga ajal menjemputnya di tahanan Jepang sekitar tahun 1946. Ia ditahan di tahanan Tlogo, Blitar dan juga Karangtengah Kota Blitar. Tidak diketahui di mana makamnya berada, setelah wafat dalam tahanan Jepang.



Sumber Bacaan : 
http://javapost.nl/2015/10/09/de-stenen-olifant-van-paree/
http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/26?q_searchfield=pare 

Selasa, 22 Januari 2013

CANDI GURAH

Reruntuhan Candi Gurah
(Soekmono, 1969)


Candi Gurah?? Taukah anda lokasi Candi ini??
Mayoritas penduduk Kediri bahkan warga Kecamatan Gurah pasti tidak mengetahui. Saat di tanya hal tersebut, alih-alih mereka menunjuk Candi Sumber Cangkring maupun Candi Tondowongso yang penemuannya menggegerkan Indonesia pada tahun 2007 lalu.

Jika pada tahun 2007 lalu tidak ditemukannya Situs Tondowongso, maka kemungkinanan besar nama Candi Gurah tidak akan di ingat lagi, bahkan terlupakan begitu saja. Penelitian dimasa silam yang menyimpan bukti kejayaan Kerajaan Kadhiri dan tema Nasioanal yang terancam terlupakan, terkubur dalam tumpukan laporan yang tiada guna lagi.

Pada tahun 1957 di dusun Sentul, Desa Tiru Lor, Kecamatan Gurah pernah ditemukan sejumlah arca dan struktur bangunan di areal lahan milik Pak Said. Lalu apa hubungannya dengan penemuan Situs Tondowongso? Ternyata lokasinya hanya berjarak 200 m lurus arah selatan Candi Tondowongso yang ditemukan tahun 2007 lalu. Bahkan menurut Tim Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta ada indikasi kuat bahwa antara Candi Tondowongso dan Candi Gurah adalah satu Kompleks percandian yang luas.

Hasil penelitian Bapak Soekmono (1958-1959) di Dusun Sentul tersebut terdapat sebuah candi induk dan tiga buah candi perwara yang terletak di depannya. Serta arca-arca yang di temukan dalam bilik candi perwara.  Arca-arca tersebut adalah Brahma, Candra, Surya, Nandi dan Yoni (Ekawati, L. 2008: 37).
Temuan arca dari Candi Gurah maupun Candi Tondowongso mempunyai persamaan, yaitu arca Brahma, Candra, Surya, Nandi, dan Yoni. Cara penempatan arca-arca di kedua candi dapat dikatakan sama, meskipun bangunan tempat arca Candra, Surya dan Nandi dari Tondowongso belum jelas bentuknya.
Arca Brahma Candi Gurah
(Soekmono, 1969)

Hasil penelitian Bapak Soekmono (1958-1959) ukuran Candi Induk Candi Gurah adalah 9,50 x 9,50 m2. Sedangkan Candi induk Candi Tondowongso hanya berukuran 8 x 8 m2. Dari perbandingan tersebut terlihat bahwa Candi Gurah lebih besar dari pada Candi Tondowongso. 
Salah Satu sudut Candi Gurah
(Soekmono, 1969)

Bapak Soekmono (1969) menduga bahwa Candi Gurah yang berada satu kompleks dengan Candi Tondowongso merupakan bangunan yang memiliki gaya khas (Kadiri stile) yang merupakan gaya peralihan antara banguanan candi gaya Jawa Tengahan dan gaya Jawa Timuran (tema nasional). Oleh karenanya, penelitian total terhadap Candi Tondowongso sangat penting untuk di lakukan. Karena selama ini belum ada wujud nyata bentuk bangunan gaya peralihan tersebut. Selain itu Candi Tondowongso merupakan aset wisata pendidikan sejarah yang sangat besar dimiliki Kabupaten Kediri. Sebelum mengalami kerusakan lebih parah, harus dilakukan penyelamatan dan pengelolaan yang professional terhadap asset besar tersebut.

Ekawati, L. 2008. Arca-Arca Dari Candi Tondowongso Dan Candi Gurah, Kediri. Berkala Arkeologi. Tahun XXVIII No. 2: 43-54. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta

Soekmono. 1969. Gurah the link between the central and the East Javanese arts. Bulletin of the    Archaeological Institute of the Republic of Indonesia

Kamis, 26 Juli 2012

Ekspedisi JasMerah di Desa Besowo



Laporan Ekspedisi Jasmerah
Episode Desa Besowo
Oleh: 
Komunitas PASAK *PelestAri Sejarah-budayA Kadhiri*


Pada hari Kamis, 12 Juli 2012
Setelah Tim Ekspedisi mendapatkan informasi dari Bapak Yosep, Sekretaris Desa Besowo, bahwa di Dukuh Besowo Timur, Desa Besowo dahulu pernah ditemukan temuan sejarah berupa arca dan batu lesung. Segera setelah itu tim meluncur ke lokasi yang dimaksud.
Karena kesulitan mencari lokasi temuan, maka tim bertanya kepada penduduk. Al hasil didapatkan informasi bahwa arca tersebut dahulu ditemukan dan berada di rumah Bapak Ngadimo. Sebelum mencari temuan arca, tim mampir dahulu ke Punden Mbah Jimat. Punden ini merupakan pusat kesakralan di Desa Besowo. Dipercaya bahwa Mbah Jimat merupakan pembuka pertama Desa Besowo. Punden Mbah Jimat merupakan Bangunan Cungkup, dimana didalam Cungkup terdapat bangunan dari papan kayu yang terlihat tua.

Setelah dari punden Mbah Jimat maka tim Ekspedisi melanjutkan mencari rumah Bapak Ngadimo. setelah tim berhasil bertemu Bapak Ngadimo beserta istrinya membenarkan perihal temuan Arca di Kebun nya sekitar tahun 70-an (1970). Namun sayang, menurut penuturan Pak Ngadimo dan istrinya, arca tersebut telah di bawa oleh kenalannya ke Bali. Selain temuan sebuah arca gopala (mungkin dwarapala) di kebun tersebut juga ditemukan pecahan-pecahan keramik Cina serta struktur batu bata berukuran besar. Kemungkinan dibawah tanah pun hingga sekarang masih terdapat struktur bangunan kuno.
Dari Pak Ngadimo kita ketahui bahwa informasi dari Pak Carik tentang temuan batu lesung berada di Punden Mbah Sari Ronce. Tim disuruh menemui Pak Slamet, sebagai Juru pelihara punden tersebut. Namun karena waktu telah sore, maka Ekspedisi dihentikan sementara dan akan dilanjutkan pada hari Sabtu, 14 Juli 2012.

Sabtu, 14 Juli 2012
Pada hari ini, Tim Ekspedisi melanjutkan penelusuran jejak Cagar Budaya di Desa Besowo. Kali ini tujuan pertama tim adalah rumah Bapak Rusmin (79). Beliau adalah juru kunci punden Mbah Jimat. Asal usul Mbah Jimat ternyata menurut penuturan beliau adalah orang dari Pajang-Mataram. Nama aslinya adalah Adipati Pangeran Benowo, yang kemudian oleh masyarakat nama “Benowo” beralih menjadi “Besowo”. Dahulu di punden Mbah Jimat ada “Joli” dan pakaian “Kutang Ontokusumo” namun sayang sekarang kedua benda tersebut telah hilang.
Gapura ke Petilasan Mbah Jimat
Dari pembicaraan yang cukup panjang Pak Rusmin menceritakan bahwa ia aslinya berasal dari Perkebunan Nyunyur, Kec. Gandusari, Kab. Blitar. Beliau lahir sekitar tahun 1937. Kemudian ia baru datang sebagai pekerja di perkebunan kopi di Besowo pada tahun 1964. Dahulu di daerah perkebunan Besowo terkenal dengan alat transportasi “gantole”. Alat transportasi ini adalah kereta gantung (gondola) untuk mengangkat hasil perkebunan di pegunungan lereng Gunung Kelud sebelah barat ini menuju gudang di Desa Besowo dan Desa Siman. 
Kemudian Pak Rusmin menjelaskan tentang pantangan apa saja yang ada di Desa Besowo, khususnya dukuh Besowo Timur:
1.      Tidak boleh memakai udeng (ikat kepala tradisional Jawa) bermotif melati.
2.      Tidak boleh memakai centing (kain ikat pinggang tradisional) berwarna hijau.
3.      Tidak boleh ada yang bermain wayang.
4.      Tidak boleh bermain gamelan atau pertunjukan yang ada gamelannya.
Diceritakannya bahwa dahulu ada orang yang menggelar acara jaranan dengan bunyi gamelannya. Seketika itu pertunjukan jaranan tersebut menjadi kacau karena tiba-tiba muncul angin lesus (putting beliung) memporak porandakan acara jaranan tersebut. Bahkan dahulu ada seorang dalang dari Desa Bacok, Kab. Malang yang akan menggelar acara wayangan di Desa Kepung, namun jalur yang dilaluinya melewati Dukuh Besowo Timur. Sebelum keluar dari Dukuh Besowo timur, tiba-tiba rombongan dalang yang membawa wayang dan gamelannya diterba angin lesus yang besar sehingga rombongan wayang yang numpang lewat itupun porak poranda kembali ke Desa Bacok.
Kemudian tim Ekspedisi disarankan mengunjungi Pak Slamet pemilik pekarangan dimana punden Kubur Dowo berada.

Punden Kubur Dowo / Mbah Sari Ronce
Punden ini berada di belakang pekarangan rumah milik Bapak Slamet Mulyono (70). Posisi punden berada di pinggir curah (jurang/sungai mati). Punden ini masih sering dikunjungi orang-orang peziarah pada malam jumat legi dan malam jumat pahing. Temuan di Punden Kubur Dowo atau yang juga disebut Punden Mbah Sari Ronce adalah sebagai berikut:


No
Temuan
Ukuran
Kondisi
Keterangan
1
Watu Lesung (mungkin Yoni)

hilang
Tahun hilangnya pemilik lahan lupa, namun yang diingat hilang pada hari Selasa Wage. Bentuknya batu berwarna abu-abu bentuk persegi berlobang tengah.
2
Fragmen carat Yoni kecil
P=25 cm
L=10 cm
T=16 cm
In situ
Carat ini terpenggal dari badan yoninya
3
Fragmen Yoni kecil
P=30 cm
L=17 cm
T=28 cm
In situ
Badan yoni ini pecah, hanya separuh kecil tubuh Yoni yang masih ada di atas punden. Lokasinya berada di belakang fragmen carat yoni. Kemungkinan yoni ini merupakan tubuh dari carat yang berada di dekatnya tersebut.
4
Reruntuhan bangunan dari batubata kuno
10 x 10 m
rusak
Kondisi bangunan sudah tidak berbentuk. Hanyaq terlihat gundukan tanah dengan kumpulan batu bata yang ditengah-tengahnya diletakkan fragmen Yoni beserta caratnya yang telah terputus.

Setelah dari punden Kubur Dowo, ekspedisi dilanjutkan berkunjung ke makam belanda. Lokasi makam belanda tersebut berada di halaman rumah Bapak Mat Takin (65), Dukuh . Saat tim sampai lokasi, kami disambut oleh Ibu Sutiah (46), istri bapak Mat Takin. Di daerah tersebutdahulu merupakan areal pemakaman belanda, namun sekarang hanya ada satu yang masih dapat dilihat.
Fragmen Yoni di Punden Kubur Dowo
Makam Capten Pattiwael
Satu-satunya makam yang masih berdiri adalah makam Capten Pattiwael. Di atas makamnya terdapat prasasti yang bertuliskan sebagaimana berikut:
Makam C. Pattiwael (Foto oleh: PASAK)


Siapakah Capten Pattiwael, belum diketahui lebih lanjut. Namun kemungkinan dia adalah petugas Belanda yang berpangkat Capten di areal Pekebunan Kopi Besowo. Ia meninggal pada usia 37 tahun. Menurut penuturan Ibu Sutiah (46), dahulu pernah ada orang-orang dari Belanda yang berkunjung kemakam tersebut. Mereka mengaku sebagai keturunan dari Capt. Pattiwael. Namun siapakah mereka?? Ibu Sutiah tidak mengetahuinya.
             Tujuan berikutnya adalah adanya informasi pernah diketemukannya arca di kebun milik Bapak Marsyam (79). Menurut penuturan bapak Marsyam, dahulu memang ditemukan arca, namun telah menghilang. Yang ada di kebun sekarang hanya pecahan watu lumpang, pipisan dan sebuah umpak batu yang di bawa kerumah (bersambung).