Kamis, 26 Juli 2012

Ekspedisi JasMerah di Desa Besowo



Laporan Ekspedisi Jasmerah
Episode Desa Besowo
Oleh: 
Komunitas PASAK *PelestAri Sejarah-budayA Kadhiri*


Pada hari Kamis, 12 Juli 2012
Setelah Tim Ekspedisi mendapatkan informasi dari Bapak Yosep, Sekretaris Desa Besowo, bahwa di Dukuh Besowo Timur, Desa Besowo dahulu pernah ditemukan temuan sejarah berupa arca dan batu lesung. Segera setelah itu tim meluncur ke lokasi yang dimaksud.
Karena kesulitan mencari lokasi temuan, maka tim bertanya kepada penduduk. Al hasil didapatkan informasi bahwa arca tersebut dahulu ditemukan dan berada di rumah Bapak Ngadimo. Sebelum mencari temuan arca, tim mampir dahulu ke Punden Mbah Jimat. Punden ini merupakan pusat kesakralan di Desa Besowo. Dipercaya bahwa Mbah Jimat merupakan pembuka pertama Desa Besowo. Punden Mbah Jimat merupakan Bangunan Cungkup, dimana didalam Cungkup terdapat bangunan dari papan kayu yang terlihat tua.

Setelah dari punden Mbah Jimat maka tim Ekspedisi melanjutkan mencari rumah Bapak Ngadimo. setelah tim berhasil bertemu Bapak Ngadimo beserta istrinya membenarkan perihal temuan Arca di Kebun nya sekitar tahun 70-an (1970). Namun sayang, menurut penuturan Pak Ngadimo dan istrinya, arca tersebut telah di bawa oleh kenalannya ke Bali. Selain temuan sebuah arca gopala (mungkin dwarapala) di kebun tersebut juga ditemukan pecahan-pecahan keramik Cina serta struktur batu bata berukuran besar. Kemungkinan dibawah tanah pun hingga sekarang masih terdapat struktur bangunan kuno.
Dari Pak Ngadimo kita ketahui bahwa informasi dari Pak Carik tentang temuan batu lesung berada di Punden Mbah Sari Ronce. Tim disuruh menemui Pak Slamet, sebagai Juru pelihara punden tersebut. Namun karena waktu telah sore, maka Ekspedisi dihentikan sementara dan akan dilanjutkan pada hari Sabtu, 14 Juli 2012.

Sabtu, 14 Juli 2012
Pada hari ini, Tim Ekspedisi melanjutkan penelusuran jejak Cagar Budaya di Desa Besowo. Kali ini tujuan pertama tim adalah rumah Bapak Rusmin (79). Beliau adalah juru kunci punden Mbah Jimat. Asal usul Mbah Jimat ternyata menurut penuturan beliau adalah orang dari Pajang-Mataram. Nama aslinya adalah Adipati Pangeran Benowo, yang kemudian oleh masyarakat nama “Benowo” beralih menjadi “Besowo”. Dahulu di punden Mbah Jimat ada “Joli” dan pakaian “Kutang Ontokusumo” namun sayang sekarang kedua benda tersebut telah hilang.
Gapura ke Petilasan Mbah Jimat
Dari pembicaraan yang cukup panjang Pak Rusmin menceritakan bahwa ia aslinya berasal dari Perkebunan Nyunyur, Kec. Gandusari, Kab. Blitar. Beliau lahir sekitar tahun 1937. Kemudian ia baru datang sebagai pekerja di perkebunan kopi di Besowo pada tahun 1964. Dahulu di daerah perkebunan Besowo terkenal dengan alat transportasi “gantole”. Alat transportasi ini adalah kereta gantung (gondola) untuk mengangkat hasil perkebunan di pegunungan lereng Gunung Kelud sebelah barat ini menuju gudang di Desa Besowo dan Desa Siman. 
Kemudian Pak Rusmin menjelaskan tentang pantangan apa saja yang ada di Desa Besowo, khususnya dukuh Besowo Timur:
1.      Tidak boleh memakai udeng (ikat kepala tradisional Jawa) bermotif melati.
2.      Tidak boleh memakai centing (kain ikat pinggang tradisional) berwarna hijau.
3.      Tidak boleh ada yang bermain wayang.
4.      Tidak boleh bermain gamelan atau pertunjukan yang ada gamelannya.
Diceritakannya bahwa dahulu ada orang yang menggelar acara jaranan dengan bunyi gamelannya. Seketika itu pertunjukan jaranan tersebut menjadi kacau karena tiba-tiba muncul angin lesus (putting beliung) memporak porandakan acara jaranan tersebut. Bahkan dahulu ada seorang dalang dari Desa Bacok, Kab. Malang yang akan menggelar acara wayangan di Desa Kepung, namun jalur yang dilaluinya melewati Dukuh Besowo Timur. Sebelum keluar dari Dukuh Besowo timur, tiba-tiba rombongan dalang yang membawa wayang dan gamelannya diterba angin lesus yang besar sehingga rombongan wayang yang numpang lewat itupun porak poranda kembali ke Desa Bacok.
Kemudian tim Ekspedisi disarankan mengunjungi Pak Slamet pemilik pekarangan dimana punden Kubur Dowo berada.

Punden Kubur Dowo / Mbah Sari Ronce
Punden ini berada di belakang pekarangan rumah milik Bapak Slamet Mulyono (70). Posisi punden berada di pinggir curah (jurang/sungai mati). Punden ini masih sering dikunjungi orang-orang peziarah pada malam jumat legi dan malam jumat pahing. Temuan di Punden Kubur Dowo atau yang juga disebut Punden Mbah Sari Ronce adalah sebagai berikut:


No
Temuan
Ukuran
Kondisi
Keterangan
1
Watu Lesung (mungkin Yoni)

hilang
Tahun hilangnya pemilik lahan lupa, namun yang diingat hilang pada hari Selasa Wage. Bentuknya batu berwarna abu-abu bentuk persegi berlobang tengah.
2
Fragmen carat Yoni kecil
P=25 cm
L=10 cm
T=16 cm
In situ
Carat ini terpenggal dari badan yoninya
3
Fragmen Yoni kecil
P=30 cm
L=17 cm
T=28 cm
In situ
Badan yoni ini pecah, hanya separuh kecil tubuh Yoni yang masih ada di atas punden. Lokasinya berada di belakang fragmen carat yoni. Kemungkinan yoni ini merupakan tubuh dari carat yang berada di dekatnya tersebut.
4
Reruntuhan bangunan dari batubata kuno
10 x 10 m
rusak
Kondisi bangunan sudah tidak berbentuk. Hanyaq terlihat gundukan tanah dengan kumpulan batu bata yang ditengah-tengahnya diletakkan fragmen Yoni beserta caratnya yang telah terputus.

Setelah dari punden Kubur Dowo, ekspedisi dilanjutkan berkunjung ke makam belanda. Lokasi makam belanda tersebut berada di halaman rumah Bapak Mat Takin (65), Dukuh . Saat tim sampai lokasi, kami disambut oleh Ibu Sutiah (46), istri bapak Mat Takin. Di daerah tersebutdahulu merupakan areal pemakaman belanda, namun sekarang hanya ada satu yang masih dapat dilihat.
Fragmen Yoni di Punden Kubur Dowo
Makam Capten Pattiwael
Satu-satunya makam yang masih berdiri adalah makam Capten Pattiwael. Di atas makamnya terdapat prasasti yang bertuliskan sebagaimana berikut:
Makam C. Pattiwael (Foto oleh: PASAK)


Siapakah Capten Pattiwael, belum diketahui lebih lanjut. Namun kemungkinan dia adalah petugas Belanda yang berpangkat Capten di areal Pekebunan Kopi Besowo. Ia meninggal pada usia 37 tahun. Menurut penuturan Ibu Sutiah (46), dahulu pernah ada orang-orang dari Belanda yang berkunjung kemakam tersebut. Mereka mengaku sebagai keturunan dari Capt. Pattiwael. Namun siapakah mereka?? Ibu Sutiah tidak mengetahuinya.
             Tujuan berikutnya adalah adanya informasi pernah diketemukannya arca di kebun milik Bapak Marsyam (79). Menurut penuturan bapak Marsyam, dahulu memang ditemukan arca, namun telah menghilang. Yang ada di kebun sekarang hanya pecahan watu lumpang, pipisan dan sebuah umpak batu yang di bawa kerumah (bersambung).

8 komentar:

  1. sekitar tahun 1970 saya tinggal dan sekolah di ds. Siman dk. bogorpradah, saat itu di dukuh bogorpradah ada sebuah tempat yg ada prasastinya, tempat itu setidaknya adalah salah satu peninggalan sejarah juga, waktu kecil saya sering mencari buah salam di situ, sejak th 1977 saya meninggalkan ds. siman dan sampai sekarang belum pernah kesana lagi, Masih adakah prasasti itu? pernahkah expedisi jas merah kesana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada prasasti itu namanya jg punden... Tempat ziarah orang hindu, setiap hari raya waisak dan hari nyepi pasti rame dikynjungi

      Hapus
    2. Ada prasasti itu namanya jg punden... Tempat ziarah orang hindu, setiap hari raya waisak dan hari nyepi pasti rame dikynjungi

      Hapus
  2. Rumah saya dulu di Dusun Sekuning, Desa Besowo, Kec Kepung, Kab Kediri...

    BalasHapus
  3. Saya adalah asli anak desa besowo dulu saya sekolah di sd besowo 1 yg kep sekolahnya bernama sumiran ,dulu dikebun peliwatan kami ada lesung aku ndak ngerti itu arca atau bukan ,tapi orang tua kami dulu pernah bercerita kalau lesung itu pernah ada yg ngambil tapi bsk pagi blk ke tempat semula

    BalasHapus
  4. Dan skrng aku ada di sumatra selatan kangen rasanya pengin pulang kampung ketemu kakak dan adik dari aku sriatun anak samuri dan lek simpen

    BalasHapus
  5. Dan skrng aku ada di sumatra selatan kangen rasanya pengin pulang kampung ketemu kakak dan adik dari aku sriatun anak samuri dan lek simpen

    BalasHapus